KONSULTASI – KREDIT BARANG DENGAN BUNGA, APAKAH HUKUMNYA RIBA?

☝️KONSULTASI – KREDIT BARANG DENGAN BUNGA, APAKAH HUKUMNYA RIBA?

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya membeli barang (sebut: Laptop) dengan cara kredit dengan bunga (margin) sebesar 10%?

✏️Jawaban
Mengkredit Barang yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli adalah suatu transaksi perniagaan yang diperbolehkan dan dihalalkan dalam syari’at, walaupun harga kreditnya lebih tinggi dibandingkan harga Cash.

Hukum akad perkreditan ini tetap berlaku, walaupun harga pembelian dengan kredit lebih besar dibanding dengan harga pembelian dengan cara kontan. pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan ulama’.

Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

☝️Dalil pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ayat ini adalah salah satu dalil yang menghalalkan adanya praktek hutang-piutang, sedangkan akad kredit adalah salah satu bentuk hutang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi dasar dibolehkannya perkreditan.

☝️Dalil kedua: Hadits riwayat ‘Aisyah radhiaalahu ‘anha.

اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (HR Bukhari & Muslim)

Pada hadits ini, Nabi shalallahu alaihi wasallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.

Dari penjelasan tersebut, maka jika yang dimaksud oleh penanya adalah tambahan harga barang setelah dikredit sebesar 10 persen, maka ini tidak termasuk riba’ dan diperbolehkan. Adapun jika yang dimaksud bunga 10 persen adalah biaya tambahan yang harus dibayar jika ada keterlambatan dalam pembayaran, maka ini termasuk riba’. wajib bertaubat darinya, dengan cara meninggalkan jauh-jauh perbuatan tersebut, menyesali sedalam-dalamnya yang sudah terjadi dan bertekad tidak akan mengulangi. Wallahu a’lam.

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM

Yuk Bantu Share pesan ini, semoga menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus pahalanya…

Peduli.fajrifm.com
WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05

*Artikel, Info Kajian dan Kegiatan Fajri lainnya* , Join:
▶️Telegram Channel : t.me/pedulifajrifm

*Video Dakwah Ringkas* lainnya:
⏸Subcribe : bit.ly/2ucK4Cj
Instagram : instagram.com/pedulifajrifm/
_
Donasi Dakwah Fajri FM:
BSM: 7068-790-268 (Tersedia no.rek. lainnya)
A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani
*Tambahkan Rp.88, jika anda mendukung prog. Dakwah via medsos. Misal Rp. 50.088*